Selasa, 27 Oktober 2026
Ekbis

Kejar Net Zero 2050, Jababeka Perluas Akses Energi Surya Buat Tenant

JAKARTA – Jababeka tak mau kawasan industrinya cuma jadi gudang dan pabrik. Urusan energi hijau juga digeber. PT Jababeka Infrastruktur mendorong pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap agar makin banyak tenant industri beralih ke energi bersih.

Dorongan tersebut disampaikan Direktur Operasional PT Jababeka Infrastruktur, Vega Violetta Puspa, dalam Breakout Session 10 bertajuk Greening Industrial Parks: Scaling Rooftop Solar for Industrial Decarbonisation pada IndoSolar 2026 di Fairmont Jakarta, Kamis (20/8).

Forum tersebut digelar Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) bersama GIZ.

Vega mengatakan, minat tenant di Kawasan Industri Jababeka untuk menggunakan solar panel terus meningkat. Namun, keinginan tersebut masih terbentur sejumlah kendala.

Salah satunya, soal kuota.

“Tenant di kawasan industri Jababeka sebenarnya sudah banyak yang ingin menggunakan solar panel. Namun, salah satu kendalanya adalah kuota yang tersedia,” ujar Vega.

Dia berharap pemerintah ikut turun tangan mempercepat sistem kuota energi terbarukan. Dengan begitu, kebutuhan industri terhadap energi bersih bisa segera terakomodasi.

“Kami berharap pemerintah dapat mendukung proses akselerasi sistem kuota untuk energi terbarukan agar kebutuhan industri dapat lebih cepat terakomodasi,” tegasnya.

Bukan cuma soal kuota. Kondisi bangunan juga menjadi pekerjaan rumah.

Maklum, tenant di Jababeka cukup beragam. Mulai perusahaan besar atau anchor tenant, sampai perusahaan kecil dan menengah. Kondisi konstruksi bangunan masing-masing pun berbeda.

Sebagian tenant bahkan masih membutuhkan informasi mengenai spesifikasi dan persyaratan struktur atap sebelum memasang PLTS Atap.

Di sinilah pengelola kawasan punya peran penting.

Menurut Vega, pengelola kawasan harus membantu tenant mengetahui apakah infrastrukturnya sudah siap untuk pemasangan solar panel.

Pengelola juga perlu menjadi jembatan antara tenant dengan penyedia solusi energi terbarukan.

Langkah tersebut sejalan dengan visi Jababeka untuk membangun kawasan industri yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Jababeka bahkan memasang target ambisius. Perusahaan berkomitmen menuju Net Zero Industrial Cluster Community pada 2050.

Target tersebut 10 tahun lebih cepat dibandingkan target net zero pemerintah pada 2060.

Artinya, energi bersih dan solusi rendah karbon bakal terus digenjot di lingkungan kawasan industri Jababeka.

Dalam forum yang sama, Hendro Gunawan, Policy Analyst in Renewable Energy Kementerian ESDM, menekankan pentingnya dukungan kebijakan dan regulasi.

Menurutnya, perlu ada kebijakan yang mampu memperluas pemanfaatan PLTS Atap, tetapi tetap menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional.

Sementara itu, VP of Operations PT Xurya Daya Indonesia, Philip Effendy, menyoroti sisi teknis dan bisnis.

Menurutnya, pengembangan PLTS Atap di sektor industri perlu memperhatikan integrasi dengan kegiatan operasional, model bisnis, hingga skema pembiayaan.

Dari sisi pelaku industri, Climate Risk Specialist Asia Pulp & Paper Group, Dina Ferydsa Verdiana, melihat energi terbarukan semakin penting dalam strategi iklim dan dekarbonisasi perusahaan.

Dorongan tersebut tak lepas dari tuntutan investor, pelanggan, maupun rantai pasok global yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.

Jababeka pun menegaskan, transisi energi bukan pekerjaan satu pihak.

Pengelola kawasan industri, tenant, pemerintah, dan penyedia solusi energi harus duduk bareng agar pemanfaatan energi terbarukan bisa bergerak lebih cepat.

Bagi Jababeka, memperluas akses energi bersih bukan sekadar mengejar target net zero.

Lebih jauh, langkah tersebut dipandang sebagai investasi untuk membangun kawasan industri yang lebih hijau, lebih kompetitif, dan siap menghadapi kebutuhan industri masa depan. (INN)

Tags:Jababeka


Baca Juga