Selasa, 15 September 2026
Ekbis

Menatap 2027, Jababeka Bekali Tenant dengan AI dan Teknologi Drone

CIKARANG UTARA – Perubahan teknologi dan regulasi lingkungan hidup membuat dunia usaha tak lagi cukup hanya mengandalkan laporan konvensional. Data harus semakin akurat, proses pengumpulan informasi dituntut lebih efisien, sementara perusahaan dituntut mampu menunjukkan komitmen keberlanjutannya secara terukur.

Di tengah tantangan tersebut, teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan pemetaan udara menggunakan drone mulai dilirik sebagai bagian dari solusi.

Hal inilah yang menjadi salah satu fokus pelatihan yang digelar PT Jababeka Infrastruktur melalui program bertajuk “Pemanfaatan Teknologi AI dan Drone untuk Mendukung Pelaporan Keberlanjutan yang Berkualitas”.

Pelatihan tersebut merupakan hasil kolaborasi Jababeka dengan President University dan University of Southern Queensland (UniSQ), Australia, dengan dukungan pendanaan dari DFAT Grant Australia.

Kegiatan ini dirancang bukan sekadar untuk memperkenalkan teknologi baru, tetapi juga membantu para tenant Jababeka memahami perubahan kebutuhan pelaporan keberlanjutan yang semakin kompleks.

Terlebih, dunia usaha kini menghadapi dinamika regulasi lingkungan hidup yang terus berkembang. Salah satunya dengan terbitnya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen LH) Nomor 5 Tahun 2026, serta persiapan menuju penerapan Pernyataan Standar Pengungkapan Keberlanjutan (PSPK) 2 yang akan berlaku efektif mulai Januari 2027.

Perubahan tersebut membuat perusahaan perlu mulai berbenah sejak dini.

Bagi tenant di kawasan industri, kesiapan tersebut bukan hanya menyangkut dokumen pelaporan. Perusahaan juga perlu memastikan data yang dikumpulkan dapat dipertanggungjawabkan, akurat, dan mampu menggambarkan kondisi operasional serta dampak keberlanjutan secara nyata.

Dalam pelatihan tersebut, perwakilan tenant dari berbagai fungsi perusahaan ikut ambil bagian. Mulai dari bidang Sustainability/ESG, Finance & Accounting, Risk Management, HSE/Environment, Operations, hingga jajaran Management.

Keragaman peserta menjadi penting karena isu keberlanjutan tidak lagi berdiri sebagai urusan satu divisi saja.

Data lingkungan, misalnya, berkaitan dengan operasional. Informasi tersebut kemudian dapat berhubungan dengan manajemen risiko, keuangan, hingga strategi perusahaan. Karena itu, pemahaman lintas fungsi menjadi bagian penting dalam mempersiapkan perusahaan menghadapi tuntutan pelaporan keberlanjutan.

Teknologi untuk Data yang Lebih Presisi

Dalam sesi workshop dan diskusi panel, para peserta diperkenalkan pada pemanfaatan AI dan teknologi drone untuk mendukung proses pengumpulan serta penyajian data.

AI dapat dimanfaatkan untuk membantu mengolah dan menganalisis data secara lebih cepat, sementara teknologi drone memberikan peluang bagi perusahaan memperoleh gambaran kondisi kawasan melalui pemetaan udara.

Kombinasi keduanya membuka peluang bagi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperoleh data yang lebih presisi sebagai bagian dari kebutuhan pelaporan.

Namun, teknologi bukan satu-satunya jawaban.

Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai langkah-langkah strategis yang perlu dipersiapkan perusahaan menjelang penerapan PSPK. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi diharapkan dapat diterapkan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing perusahaan.

Forum tersebut juga menjadi ruang interaksi antara peserta dan akademisi.

Melalui diskusi panel, perwakilan tenant dapat menyampaikan pertanyaan secara langsung kepada narasumber dari President University dan UniSQ. Berbagai persoalan yang dihadapi perusahaan dapat dibahas sehingga peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman teoritis, tetapi juga perspektif yang lebih aplikatif.

Menariknya, kehadiran peserta dari berbagai fungsi dan perusahaan juga menciptakan ruang pertukaran pengalaman antar-tenant.

Tantangan dalam menjalankan program keberlanjutan, metode pengumpulan data, hingga praktik yang selama ini diterapkan di kawasan menjadi bagian dari diskusi. Dari sinilah muncul kesempatan untuk saling belajar dan melihat bagaimana perusahaan lain menghadapi persoalan yang serupa.

Menyiapkan Tenant Menghadapi Perubahan

Bagi Jababeka, pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat peran kawasan industri tidak hanya sebagai tempat berlangsungnya aktivitas bisnis, tetapi juga sebagai ekosistem yang mendorong peningkatan kapasitas para tenant.

Perkembangan regulasi dan teknologi dinilai akan terus menuntut dunia usaha untuk beradaptasi.

Karena itu, kesiapan menghadapi penerapan standar pelaporan keberlanjutan perlu dibangun sejak sekarang, bukan ketika regulasi mulai diberlakukan.

Melalui kolaborasi dengan President University dan University of Southern Queensland, Jababeka berupaya menghadirkan akses terhadap pengetahuan dan perspektif akademik, termasuk perkembangan teknologi yang dapat menunjang kebutuhan industri.

Kolaborasi tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya sinergi antara dunia industri, perguruan tinggi, dan mitra internasional dalam menghadapi perubahan tuntutan bisnis.

Pada akhirnya, AI dan drone bukan sekadar teknologi yang sedang berkembang. Di tangan dunia usaha, keduanya dapat menjadi instrumen untuk memperoleh data yang lebih baik, mengambil keputusan yang lebih tepat, dan membangun sistem pelaporan keberlanjutan yang semakin kredibel.

Bagi para tenant Jababeka, perubahan itu kini mulai dipersiapkan—selangkah lebih awal sebelum tuntutan regulasi dan standar keberlanjutan memasuki babak berikutnya pada 2027. (INN)

Tags:JababekaKabupaten Bekasi


Baca Juga