BEKASI – Ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Bekasi kini berada dalam kondisi kritis dan terancam tidak dapat berproduksi secara optimal pada musim kemarau tahun ini. Masalah penumpukan sedimentasi di Saluran Sekunder (SS) Balong Tua serta maraknya ratusan bangunan liar di sepanjang bantaran menjadi pemicu utama tersumbatnya distribusi air irigasi ke sektor persawahan warga. [
1]
Kondisi darurat ini mencakup wilayah pertanian yang tersebar di tiga kecamatan potensial, yakni Kecamatan Sukatani, Tambelang, dan Sukawangi. Berdasarkan pantauan di lapangan, air yang seharusnya mengalir lancar untuk menghidupi tanaman padi justru mandek akibat pendangkalan parah dan penyempitan badan sungai. [
1]
Plt Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, menegaskan bahwa gangguan aliran air ini berdampak langsung pada penurunan produktivitas pertanian masyarakat secara drastis. Jika pasokan air terus menyusut, sebagian besar lahan bahkan diprediksi sama sekali tidak bisa ditanami. [
1]
“Yang terdampak hampir 1.500 hektare. Saat ini musim kemarau dan aliran air dari kali sekunder tidak lancar karena sedimentasi yang sudah tinggi ditambah adanya bangunan liar,” ujar Asep usai meninjau lokasi SS Balong Tua di Desa Sukamulya, Kecamatan Sukatani, dan Desa Sukawijaya, Kecamatan Tambelang, Jumat (19/6/2026). [
1]
Menurut Asep, persoalan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena taruhannya adalah ketahanan pangan daerah. Skenario terburuknya bukan lagi sekadar penurunan kualitas padi, melainkan ancaman gagal panen total yang merugikan ribuan petani setempat.
Sebagai langkah penyelamatan cepat, Pemerintah Kabupaten Bekasi bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) tengah mematangkan rencana normalisasi jalur irigasi sepanjang 4,5 kilometer. Agenda ini diharapkan mampu mengembalikan fungsi hulu saluran irigasi, memperlancar pasokan air, serta menghindarkan para petani dari kerugian ekonomi yang masif di musim kemarau. (INN)