Sabtu, 7 Maret 2026
Ekbis

Jababeka Deklarasikan Kota Wisata Industri untuk Hadapi Deindustrialisasi Dini

JABABEKA  — Kawasan Kota Jababeka Cikarang yang dikembangkan PT Jababeka Tbk mendeklarasikan diri sebagai kota wisata industri sebagai strategi menghadapi fenomena deindustrialisasi dini di Indonesia. Konsep ini mengintegrasikan sektor manufaktur dengan pariwisata berbasis industri guna menciptakan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan.

President Director PT Graha Buana Cikarang, Ivonne Anggraini, mengatakan masa depan kawasan industri tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran, kolaborasi, dan inovasi.

“Kami memandang bahwa masa depan kawasan industri tidak hanya sebagai pusat produksi, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran, kolaborasi, dan inovasi. Pengembangan kota wisata industri merupakan bentuk komitmen kami dalam memperkuat revitalisasi manufaktur sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat, pelaku usaha, dan investor global,” ujar Ivonne.

Menurutnya, transformasi kawasan industri menjadi destinasi wisata industri merupakan langkah strategis untuk memperluas fungsi industri dari sekadar pusat produksi menjadi pusat pengalaman dan pengetahuan.

Kota Jababeka saat ini berkembang sebagai kota mandiri terintegrasi yang mencakup hunian, industri, bisnis, dan pendidikan berskala global. Kawasan ini memiliki populasi sekitar 1,2 juta jiwa dengan komunitas internasional lebih dari 10.000 ekspatriat serta dihuni oleh lebih dari 2.000 perusahaan nasional dan multinasional.

Melalui konsep wisata industri, masyarakat dapat mengunjungi kawasan industri untuk berbelanja langsung dari pabrik, pelajar dapat mempelajari proses produksi secara langsung, dan investor dapat melihat potensi ekosistem industri yang berkembang di kawasan tersebut.

Ivonne menambahkan pengembangan kota wisata industri juga melibatkan kolaborasi antara industri global, pariwisata budaya, serta pemberdayaan UMKM lokal untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif.

“Kami percaya bahwa industri yang kuat harus tumbuh bersama masyarakat di sekitarnya. Melalui integrasi sektor industri, pariwisata, dan pemberdayaan UMKM, kami berupaya menciptakan perputaran ekonomi yang lebih inklusif, membuka peluang usaha baru, serta menghadirkan manfaat nyata bagi komunitas lokal,” katanya.

Dukungan terhadap inisiatif tersebut juga datang dari Pemerintah Kabupaten Bekasi. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi Andri Julianto mengatakan konsep wisata industri dapat menjadi langkah progresif dalam diversifikasi destinasi pariwisata daerah.

“Kami melihat deklarasi Kota Jababeka sebagai kota wisata industri sejalan dengan upaya diversifikasi destinasi pariwisata daerah. Konsep ini memiliki potensi besar untuk memperluas segmentasi wisata, khususnya wisata edukasi dan business tourism, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal,” ujar Andri.

Sebagai implementasi awal dari konsep tersebut, PT Jababeka Tbk menyelenggarakan Jababeka Harmony Festival 2026 pada 6–8 Maret 2026. Festival ini menghadirkan kolaborasi antara ekosistem industri global, pariwisata budaya, dan lebih dari 100 UMKM lokal.

Acara tersebut juga memadukan perayaan Cap Go Meh dan Festival Ramadan dalam satu rangkaian kegiatan sebagai simbol harmoni budaya di kawasan tersebut. Selain itu, festival ini juga menghadirkan kegiatan sosial yang melibatkan perusahaan tenant dan masyarakat sekitar.

Ke depan, Jababeka juga menyiapkan pengembangan Jababeka Factory Outlet (JFO) sebagai ikon wisata industri di kawasan tersebut. Fasilitas ini akan menjadi ruang pamer produk manufaktur dari berbagai tenant industri, di mana masyarakat dapat membeli produk langsung dari produsen sekaligus memahami proses produksi dan inovasi di baliknya.

Ivonne menyatakan pengembangan kota wisata industri ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan investor serta menjadi model solusi inovatif dalam menghadapi tantangan deindustrialisasi dini di Indonesia. (**)

Tags:Jababeka


Baca Juga